![]() |
instagram.com/henynraln |
Bagaimana kalau kali ini kita membahas tentang keterampilam berbicara? Konon, banyak orang yang ingin terampil dalam berbicara kan ya. Tentu, tidak berarti saya sudah sempurna dalam bidang ini.. Walaupun berprofesi sebagai pembicara, kadang keceletot lidah juga kok.
Tapi tenang saja. Karena bicara, tidak hanya sekedar soal retorika. Melainkan juga 'tuah' atau 'dampak' dari perkataan yang kita ucapkan. Bukankah ada orang yang bicara berapi-api, menggebu dan memukau; tapi tak ada hikmah apapun yang bisa didapatkan oleh pendengarnya?
Namun ada orang yang bicara perlahan saja. Bahkan cenderung terbata-bata. Tapi kata-katanya sarat dengan makna. Sehingga orang bersedia bersimpuh untuk mendengar kata-kata hikmah yang diucapkannya.. Bagaimana bisa begitu?
Banyak faktor penentunya. Tapi ada satu hal yang sangat jarang dibahas. Bahkan di kelas training bertajuk "Effective Communication Skills" sekalipun. Apa faktor penentu yang jarang dibahas itu? Yaitu, keterkaitan antara makanan yang kita konsumsi dengan perkataan yang kita ucapkan. Oya, ngomong-ngomong; "Effective Communication Skill" itu adalah salah satu topik training saya loh. Eh, agak berbau iklan deh..
"Perhatikan makanan kamu, kalau kamu ingin menjadi pembicara yang hebat". Demikian nasihat yang saya dapat dari guru mengaji di masjid. Tertera dalam hadits Rasulullah. Dan setelah saya kaji, tertera juga dalam Al-Quran.
Perhatikan makanan Anda, kalau Anda ingin menjadi pembicara yang hebat. Sekarang, kalimat itu menjadi nasihat yang saya anjurkan kepada Anda. Makanan seperti apa? Mari kita bahas lebih jauh.
Ada tiga aspek penting soal makanan untuk para pembicara hebat. Pertama, kandungan nutrisinya yang dapat mendukung fungsi kognitif. Kenapa kognitif? Karena perkataan yang berbobot lahir dari bekerjanya fungsi kognitif berupa pemikiran yang baik.
Contoh jenis makanannya adalah brokoli. Gampang kan cari brokoli. Kalau saya, pergi ke pasar saja. Sekilo cuman sekitar 20 ribuan.. Bersihkan. Potong kecil-kecil. Cuci dengan air matang. Simpan di freezer. Lalu. Hampir setiap hari diblenderlah itu brokoli. Glek. Minum.
Alpukat juga bagus. Tapi pengalaman saya, agak susah cari alpuket yang maknyus. Jadi ya sesekali aja dapatnya. Sebagai gantinya, tomat. Nggak sama sih, tapi ada plus dan minusnya. Soal tomat ini, saya rebus kira-kira 5 menit. Habis itu dimakan selagi hangat. Air rebusannya diminum. Antara 1 sampai 3 butir tomat saya konsumsi perhari. Bisa juga diblender bareng brokoli tadi.
Kedua. Hindari mengkonsumsi makanan yang mengganggu sistem otak dan refleks syaraf kita. Otak butuh dijaga kemampuan berpikirnya. Refleks syaraf butuh dirawat kemampuan responsifnya. Caranya, dengan menghindari 'intake' berupa makan, hisap, telan apapun yang merusaknya. Contohnya?
Makanan yang terlalu berlemak. Hindari. Tapi sate paling enak kalau ada lemaknya ya kan. Jeroan dan otak sapi paling muaknyus disantap karena banyak lemak juga. Gak boleh nih? Bolehlah sekali-sekali. Tapi sedikit saja. Saya sih tidak makan otak sapi. Kalau otak udang iya, kan ukurannya kecil saja. Sop kaki kambing? Nah kalo itu doyan. Lemaknya kan nggak banyak kaki kambing mah.
Makanan yang dibumbui dengan MSG, hindari deh. Gak bagus banget buat Anda yang ingin lancar dalam berbicara. Terakumulasi ternyata MSG itu. Itu loh kripik-kripik yang pake bumbu serbuk contohnya. Tapi gurih dan renyah rasanya! Ya udah, sekali-sekali aja bolehlah....
Ketiga. Makanlah hanya makanan yang halal. Hloh? Kok makanan halal. Apa hubungannya? Begini. Anda percaya bahwa Allah itu pencipta kita? Iya. Maka Dia tahu persis soal tubuh kita kan? Iya.. Maka Dia tahu. Makanan apa yang baik dan apa yang buruk untuk kita kan? Nah, iya. Makanya, kalau Dia bilang haram. Hindari. Makan yang halal saja. Bahkan yang syubhat pun baiknya dihindari juga. Perkataan Anda, bakal sangat bertuah.
Contoh sederhana deh. Alcohol. Allah bilang haram. Anda juga tahu kalau alkohol bikin pikiran kita ngawur kan? Ada gitu pembicara yang sebelum manggung nenggak alkohol dulu...? Emh..., maaf ya. Ada. Bahkan beberapa waktu lalu, ada nara sumber di tivi yang dari ucap dan gayanya selama talkshow itu terlihat agak-agak sakaw kan? Haram. Hindari.
Iya. Itu karena kandungan makanan atau minumannya yang memang bikin mabok. Kalau soal hukum halal haram? Kan nggak semua makanan yang diharamkan Allah pasti merusak pikiran?
Argumen diatas terkesan logis ya? Sekarang, coba Anda buka Al-Quran. Salah satunya ayat ke 42 surah Al-Maidah. Disitu Allah memperlihatkan hubungan antara mengkonsumsi makanan haram dengan kegemaran mendengar kebohongan. Loh kok mendengar? Iya, karena pendengaran berhubungan dengan perkataan yang keluar dari mulut seseorang. Dalam konteks makanan haram ini; kata-kata dusta.
Intinya. Kalau orang gemar memakan yang haram-haram; dia cenderung jadi suka pada kebohongan. Maka kalau Anda suka bohong. Atau suka sekali mendengarkan seorang pembohong - apalagi mendukung kebohongannya; kemungkinan besar, terlalu banyak mengkonsumsi nafkah yang haram-haram tuch. Coba cek lagi.
Haram itu, ada 2 kategori.. Dzatnya memang haram, seperti alkohol tadi. Atau, barangnya sih halal. Tapi cara perolehannya haram. Maka jatuhlah dia kedalam kategori haram. Uangnya halal, tapi dari korupsi; jadi haram. Dari menekan suplier? Haram juga. Dari suapan para cukong? Haram. Perolehan sesuatu lewat cara riba? Anda sudah tahu juga jawabannya kan.
Meski 'bendanya' halal, tapi esensinya haram. Maka mengkonsumsinya bisa menyebabkan perkataan kita tidak bertuah. Tidak layak dipercaya. Karena, penuh dengan dusta. Walaupun perkataan itu diucapkan dengan gaya yang meyakinkan.
Contoh aktual. Dalam debat capres di sebuah negeri dongeng imajiner beberapa hari lalu. Salah satu kontestan dalam debat itu tampil memukau. Bicara meyakinkan dengan argumen yang terkesan valid. Keesokan harinya, barulah ketahuan bahwa ternyata; isi perkataannya penuh dengan dusta.
Pihak yang menganalisisnya, menemukan sekurang-kurangnya ada 10 dusta besar dalam perkataannya di acara debat itu.. Apakah itu berkaitan dengan makanan? Kemungkinan sih iya. Tinggal dilihat saja ke-3 aspek diatas. Mana yang dominan. Yang pertama, kedua, atau ketiga. Atau kombinasi ketiganya. Jangan baper. Please, jangan baper. Gunakan akal sehat, ok.
Pertanyaannya adalah, bagaimana makanan dari harta haram bisa menyebabkan perkataan kita kehilangan makna? Bahkan dalam tingkat yang parah, bisa mengubah diri kita menjadi seorang pendusta yang tidak bisa lagi menyadari bahwa dirinya sedang berdusta?
Begini. Setiap makanan yang kita konsumsi, dicerna oleh berbagai macam enzim sejak di mulut kita hingga di intestin.. Lalu sari makanan dari pencernaan itu diserap, utamanya di usus halus. Lantas masuk kedalam aliran darah. Dari darah itu, disalurkan ke hati, otak, serta semua sel-sel tubuh kita.
Dari sari makanan itulah kemudian sel-sel tubuh kita mendapatkan energi untuk hidup bahkan melakukan regenerasi. Bayangkan jika otak kita hidup dari makanan haram. Seluruh selnya, akan berpikir yang buruk-buruk.
Bayangkan jika hati dan jantung kita hidup dari makanan haram. Seluruh itikad dan niatnya buruk. Rasa malu pun bakal sirna dari dalam diri kita. Bayangkan. Kalau seluruh sel dalam sekujur tubuh kita dikasih nutrisi haram. Bakal kompakan semua bagian badan kita ini untuk mengeluarkan perkataan dusta kan.
Makanya Rasulullah memperingatkan untuk makan makanan yang halal agar perkataan dan ucapan kita memiliki makna. Beliau melarang kita memakan yang haram-haram yang antara lain bakal berdampak pada perkataan kita.
Contohnya. Diantara rangkuman nasihat Rasulullah itu antara lain; "Barang siapa yang memakan makanan haram. Maka doanya, tertolak. Dan amal ibadahnya tidak diterima selama 40 hari". Anda pernah mendengar hadits-hadits tentang hal itu kan? Iya. Makanya. Menjaga makanan yang halal lagi thoyyib itu penting untuk para pembicara. Siapa pembicara itu? Semua orang yang berkomunikasi dengan orang lain. Anda. Saya. Kita semua.
Sudah jelas ya bahwa ada keterkaitan antara makanan dan perkataan. Maka kalau ingin menjadi pembicara hebat. Yang kata-katanya berbobot. Hingga layak didengarkan dan dijadikan acuan. Mulailah dari memperhatikan makanan kita. Lihat ke-3 poin yang sudah kita bahas diatas. Boleh Anda jadikan itu sebagai panduan dasarnya.
NB: "The art of communication is the language of Leadership" - James Hume. Program "Effective Communication Skills For Leaders" saya menggunakan Personality Assessment. Sistematis, dan aplikatif. Hubungi 0812-1989-9737 atau email: dkadarusman@yahoo.com untuk info lebih lanjut.
Salam hormat.
Mari Berbagi Semangat!
DEKA - Dadang Kadarusman.
Change Matter Learning Partner.
http://www.dadangkadarusman.com/training-effective-communication-skills
Silakan teruskan kepada orang lain jika Anda nilai artikel ini bermanfaat. Dan tetaplah mengingat bahwa; Anda tidak perlu mengklaim sesuatu yang bukan karya tulis Anda sendiri. Meskipun Anda sudah berbuat baik, namun Tuhan; belum tentu suka tindakan itu (Natin & The Cubicle).
Catatan kaki:
Kebanyakan klien pelatihan saya adalah pelanggan lama yang sebelumnya pernah mengundang saya.. Atau pelanggan baru yang mendapatkan rekomendasi dari klien lainnya.. Ada juga yang PIC-nya pindah ke perusahaan lain, lalu mereka ‘membawa’ saya ke kantor barunya…. J Thank you all!
Jika Anda ingin mendapatkan update article saya via WA silakan bergabung dengan Group WA “Dekadarus And Friends” di nomor : 0812-19899-737. Sebutkan Nama dan tulis “Dekadarus And Friends Group”. Jumlah member terbatas.
Kesibukan sering tidak memungkinkan saya untuk posting artikel di berbagai milist. Jadi saya prioritaskan di milist pribadi yang bisa diupdate melalui gadget. Jika Anda ingin mendapatkan kiriman artikel “P (=Personalism)” secara rutin sebaiknya bergabung disini: http://finance.groups.yahoo.com/group/NatIn/
Disclaimer:
Saya tidak selalu mampu merespon balik komentar atau sanggahan atas tulisan ini. Karena berbagai keterbatasan yang ada pada saya. Terimakasih atas pengertiannya.
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA - Dadang Kadarusman
Change Matter Learning Partner
www.dadangkadarusman.com