Memilih Orang Kedua Anda



Staffing itu merupakan salah satu fungsi penting dalam manajemen. Ini mencakup perencanaan, perekrutan, pengembangan, pendampingan agar bisa berkontribusi secara optimal kepada perusahaan, succession planning, persiapan pensiun, hingga pelaksanaan pensiunnya sendiri.

Kita akan mentikberatkan bagian succession planningnya kali ini. Tahapan dimana kita menyiapkan calon-calon leader yang akan menggantikan existing leader, untuk menjadi pengendali utama fungsi-fungsi kepemimpinan berikutnya dimasa depan. Tapi. Untuk menyimaknya, Anda harus punya pikiran yang terbuka. Serta hati yang lapang.

Kalau Anda cowok baperan. Anda bakal merasa kesindir sendiri. Atau Anda merasa tokoh idola junjungan Anda sedang dikritisi. Akhirnya Anda nggak belajar apa-apa. Malah ngambek. Lalu pundung. Terus mutung. So. Open your mind, dude. Loosen your hearth. You will find the truth inside. Unless you choose to be the donkey...then okey deh.

Mari mulai dengan case sederhana. Misalnya Anda seorang manajer. Pemimpin di sebuah unit kerja. Dalam proses staffing awal tahun, Anda punya opsi 2 karyawan yang akan mendampingi Anda memimpin team. Yang satu karyawan kawakan yang Anda sudah kenal baik. Yang ke-2 karyawan baru yang masih fresh. Anda pilih yang pertama atau yang ke-2 untuk menjadi pendamping?

Dalam perjalanan karir saya, ada satu masa dimana saya ikut dalam team yang bertanggungjawab menentukan sfaffing di perusahaan. Jadi saya mengenal betul bagaimana respon tipikal para manager terhadap kasus diatas.

Dan sesungguhnya, staffing sudah saya lakukan sejak masih kuliah. Sebagai Sekeretaris Jenderal sebuah organisasi kala itu. Salah satu tugas SekJend adalah; mengalokasikan sumberdaya manusia yang kita punya ke setiap departemen atau unit dalam organisasi itu.. So staffing, bukan barang baru.

Dalam profesi saat ini, secara langsung atau tidak langsung; saya ikut 'mewarnai' proses staffing di perusahaan-perusahaan yang menjadi klien saya. Hari Rabu kemarin, misalnya. Saya mendampingi Dirut Sebuah Holding Company bersama BOD lainnya, para Direktur dan Wadir serta VP seluruh perusahaan di holding itu. So staffing, masih jadi barang up to date pula.

Sekarang mari kita cek jawaban Anda pada case diatas. Anda memilih orang yang kawakan itu, atau anak muda yang masih fresh sebagai orang kedua Anda?

Anda tidak salah jika memilih orang kawakan. Karena Anda bisa mengandalkan pengalamannya untuk membantu Anda menyelesaikan pekerjaan. Betul ya. Dan betulnya Anda ditambah satu lagi, karena sebagian besar pemimpin mengambil pilihan seperti itu.

Ditempat kerja saya dulu, bahkan ada manajer yang mengintervensi proses staffing untuk memastikan mereka mendapat pekerja-pekerja paling berpengalaman. Ada yang sampai marah bahkan.. Maklum cowok baperan...

Kenapa? Karena dalam bekerja, mereka lebih suka menempuh cara gampang. Menembus jalan pintas.. Pengennya yang sudah jadi. Dan itu, jelas tidak selaras dengan prinsip staffing sebagaimana secara sederhana sudah diulas sekilas diawal tulisan ini..

Seorang leader yang bagus. Memilih anak muda untuk menjadi orang ke-2 yang mendampinginya dalam menjalankan fungsi kepemimpinannya. Bukan sekedar memilih orang yang sudah senior. Apa lagi yang sudah menjelang pensiun. Terlebih lagi yang sudah sepuh, sehingga membaca saja sudah tidak jelas. Bahkan berjalanpun, kadang sudah mesti dituntun oleh orang lain. Jangan baper.... Not good itu.

Kenapa? Karena salah satu fungsi penting seorang pemimpin adalah menyiapkan suksesornya untuk meneruskan estafeta kepemimpinan dimasa depan. Bukan sekedar menyelesaikan pekerjaan.

Tidak usah disebut namanya. Tapi Anda tahu beberapa perusahaan keluarga terpaksa harus tutup padahal sudah puluhan tahun malang melintang di pasaran. Kenapa? Gagal melakukan regenerasi kepemimpinannya.

Anak-anaknya pinter-pinter. Sekolah di universitas ternama diseluruh penjuru dunia. Tapi mereka nggak balik kandang untuk membesarkan perusahaan yang dirintis dan dibangun papanya. Walhasil, sang papa menjalankan perusahaan bersama teman-teman yang setia sejak awal perusahaan itu dibangun. Yang pastinya, mereka sudah hampir outdated semua. Lantas? Yagidu deh.

Di perusahaan global juga banyak kita temui dimana para leader hanya memikirkan pencapaian unit bisnisnya sendiri. Lupa. Kalau bisnis itu harus berkelanjutan. Pas leadernya pensiun? Semaput mencari pengganti dari perusahaan lain. Managernya pindah? Bingung karena proses bisnisnya tidak jalan.

Kalau saya menyerempet kepada pasangan Capres-Cawapres di sebuah kerajaan imajiner yang mau ngadain pemilu April nanti, sudah pasti cowok-cowok baperan bakal ngambek lagi. Sehingga ilmu dan esensi pembahasannya menguap bersama darah yang mendidih diubun-ubunnya.

Padahal, cowok-cowok baperan itu juga paham bahwa; negeri ini butuh pemimpin yang tangguh, berstamina prima, serta bisa membawa bangsa dan negara ini dihormati serta dihargai tidak hanya didalam negeri. Juga diluar negeri. Paham kan soal ini? Masa yang begini saja nggak mengerti, iya kan?

Makanya saya tidak akan membawa pembahasan ini kedalam konteks itu. Karena masih ada diantara kita yang akal sehatnya tertutupi oleh kecupetan pikir dan rasa. Jadinya closed minded dan heart narrowed.

Apa yang saya anjurkan kepada para leader di perusahaan-perusahaan? Jika Anda seorang Manager atau Direktur.. Anda harus mengambil anak muda yang potensial, untuk menjadi orang ke-2 Anda. Anak mudanya, tentu tidak boleh sembarangan. Harus yang bagus. Good looking juga. Karena dia akan menjadi representasi korporasi dihadapan para stakeholders nanti.

Silakan dicek. Semua perusahaan paling top di dunia saat ini, dipimpin oleh orang-orang muda. Atau, yang second layer leadersnya masih pada muda-muda. Ada, yang CEO atau wakil CEO-nya kakek berusia 70 tahun? Nggak kasihan sama orang tua, kalau tega menunjuknya untuk menjalankan tugas berat itu. Insyaflah.

Apalagi bicara soal Start Up companies. Remaja-remaja 20 tahunan saja yang jadi leadernya. Rentang rata-ratanya sekitar 30 sampai 35 tahun usia mereka itu. Jenenge, kaum. Mi. Le. Ni. Al. And yes, the world belongs to the millenials. Sedangkan orang tua, sekedar tamu yang sebentar lagi akan 'pulang'. Begitu kan kata tokoh-tokoh ilmu disrupsi?

Tantangan dalam bisnis sekarang, berbeda jauuuuh sekali dibandingkan dengan tantangan bisnis 10 tahun lalu. Cara berpikir para pebisnis sekarang sudah bermutasi melalui serat-serat dan optic vision berbasis teknologi. Sedangkan orang-orang 'kawakan' tadi, walaupun punya pengalaman. Tapi gagap teknologi.

Gadget yang mereka tenteng emang terbilang yang paling mutakhir. Punya banyak kartu kredit untuk mencicilnya nol persen. Namun feature function yang dipakenya; hanya 2. Nelepon. Sama kirim pesan pendek. Selebihnya, ngeblank. Think: sejak kapan pengalaman bisa mengalahkan kecerdasan yang didukung teknologi?

Tapi kan pengalaman mereka penting Dang! Iya. Sayangnya pengalaman masa lalu, tidak selalu relevan dengan tantangan masa depan. Jadinya, pengalaman itu; bukan lagi faktor keunggulan..

Silakan tanyakan kepada tokoh disrupsi manapun yang Anda idolakan dan kata-katanya lebih Anda dengarkan. Dia – Atau mereka –  Akan bilang bahwa companies... are facing neeeeew kinds of competions. Namely, unseeeeeen contenders. Boro-boro tahu strategy kompetitor baru Anda, wujudnya aja seperti apa itu competitor; nggak kelihatan. Tahu-tahu, jebret aja. Mereka melahap pangsa pasar Anda.

Tapi kan orang senior itu punya massa public yang besar untuk mendulang suara Dang! Seandainya para pembaca tulisan saya nggak ada cowok baperannya, tentu sudah saya kupas habis soal itu. Tapi sudahlah. Anda yang tidak terkena darurat akal sehat, bersyukur ya. Dan banyak-banyak doa, supaya tidak tertular virus ke-'begituan'-nya.

Teori doang kamu itu Dang! Insya Allah. Saya mengatakan apa yang sudah saya kerjakan. Dalam masa karir saya sebagai profesional, saya membiasakan diri untuk merekrut orang-orang muda di team saya. Sebagian dari Anda yang membaca ini, mungkin pernah sekantor dengan saya kan?

Bukan anak-anak muda sembarangan yang boleh kita ambil. Harus yang bagus. Dan karena kami perusahaan Global, maka anak muda itu harus bisa menerima kemungkinan ditempatkan di negara manapun. Jadi? Jadi bahasa Inggris mutlak mesti bisa.

Minimal ngerti, kalau ngomong urusan yang menjadi tanggungjawabnya. Nggak gagap terus ditinggalin oleh kolega world-widenya. Ujung-ujungnya, nama baik perusahaan juga kan yang tercoreng..

Think this: Kiprah internasional apa yang bisa diharapkan dari calon pemimpin yang tidak bisa berbahasa internasional. Baper lagih? Please deh.

Masih hijau. Tapi potensinya tinggi. Itu anak muda yang saya pilih untuk mendampingi menjalani tugas penting dikantor. Lalu dididik. Dibimbing. Dan dikembangkan. Sampai dia bisa. Bisa apa? BUKAN bisa mengerjakan hal yang bisa kita kerjakan. Ngapain kalau cuman gitu doang mah. Gue juga bisa sendiri kan.

Sampai dia bisa apa dong? Sampai dia bisa menemukan jalannya sendiri untuk meraih bintang-bintang yang sesusai dengan kapasitas dan potensi yang Allah anugerahkan kepada dirinya.

Setinggi apa kapasitas diri dia? Well. Karena dia 'produk' baru yang Allah ciptakan, maka dia pasti punya spec yang lebih sophisticated dari pada produk sebelumnya. Produk baru yang canggih itu, dia. Anak muda itu.

Dengan otak encernya. Dengan ide-ide segarnya. Dengan gagasan-gagasan cemerlangnya. Dengan stamina yang primanya. Dengan kegantengannya, mungkin perlu juga. Dengan keseluruhan pesona mudanya. Makanya, anak muda itu; bisa mencapai titik yang lebih tinggi dari mentornya. Jangan khawatir Anda akan tersaingi. Enjoy aja...

Produk lama itu, gue. Bagus dan unggul; dijaman gue. Makanya - dengan segala hormat kepada teman-teman seangkatan; pencapaian karir saya melampaui pencapaian karir teman-teman seangkatan kerja saya. Gue. Bagus. Tapi bagusnya hanya untuk jaman gue. Buat masa depan? Yang cocok hanya mahluk yang Allah ciptakan untuk masa depan itu sendiri. Ya anak muda itu.

Umur saya sekarang 49 tahun. Insya Allah, masih kompatibel 5 sampai 10 tahun lagi. Tapi, nggak cocok buat masa depan yang lebih panjang. Lalu bagaimana dengan mereka yang sudah sepuh itu. Kalau umur sudah lebih dari 60, bagusnya fokus ke masjid saja.

Selain lebih khusyuk dalam beribadah, lanjutkan dengan mengajar atau belajar ilmu akhirat. Jalan santai sama kolega sebaya. Bikin kegiatan amal sekuatnya. Gendong cucu cicit, sambil berjemur jam 6 sampai 10 pagi. Dan percayakan tampuk kepemimpinan itu kepada generasi muda. Baper lagih? Your call deh.

So mulai sekarang teman-teman manager dan direktur, diubah ya mindset kepemimpinannya. Jangan hanya memilih pendamping karena senioritas dan pengalamannya. Anda sudah harus memikirkan masa depan perusahaan. Segera mulai proses succession planningnya. Dengan memilih anak muda potensial, sebagai orang kedua yang mendampingi fungsi kepemimpinan Anda.

N.B: Untuk membekali talenta muda, saya punya Training "TURNING POTENTIAL POWER INTO PROFESSIONALISM". Untuk membekali leadernya, saya punya training "HOW TO BECOME A PEOPLE BUILDER". Hubungi 0812-1989-9737 atau email dkadarusman@yahoo.com

Salam hormat.
Mari Berbagi Semangat!
DEKA - Dadang Kadarusman.
Change Matter Learning Partner
http://www.dadangkadarusman.com

31 Jan 2019 

Catatan kaki:
Kebanyakan klien pelatihan saya adalah pelanggan lama yang sebelumnya pernah mengundang saya.. Atau pelanggan baru yang mendapatkan rekomendasi dari klien lainnya. Ada juga yang PIC-nya pindah ke perusahaan lain, lalu mereka ‘membawa’ saya ke kantor barunya…. J Thank you all!

Silakan teruskan kepada orang lain jika Anda nilai artikel ini bermanfaat. Dan tetaplah mengingat bahwa; Anda tidak perlu mengklaim sesuatu yang bukan karya tulis Anda sendiri. Meskipun Anda sudah berbuat baik, namun Tuhan; belum tentu suka tindakan itu (Natin & The Cubicle).

Jika Anda ingin mendapatkan update article saya via WA silakan bergabung dengan Group WA “Dekadarus And Friends” di nomor : 0812-19899-737. Sebutkan (1) Nama dan tulis (2) “Dekadarus And Friends Group”. Agustus 2015. Jumlah member terbatas.

Kesibukan sering tidak memungkinkan saya untuk posting artikel di berbagai milist. Jadi saya prioritaskan di milist pribadi yang bisa diupdate melalui gadget. Jika Anda ingin mendapatkan kiriman artikel “CEO (=CEO Talk)” secara rutin sebaiknya bergabung disini: http://finance.groups.yahoo.com/group/NatIn/

Disclaimer:
Saya tidak selalu mampu merespon balik komentar atau sanggahan atas tulisan ini. Karena berbagai keterbatasan yang ada pada saya. Terimakasih atas pengertiannya.

Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA - Dadang Kadarusman
Change Matter Learning Partner
www.dadangkadarusman.com

Related Posts

Latest